Giat coffee morning yang digelar Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Maluku di the View Cafe, Ambon, Selasa (16/12/2025). Dari kiri, Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi Regional Maluku Rosita, Kadis Ketapang Faradilla Atamimi (pegang mike), Kadis Kominfo Melky Lohy, Kadis Pertanian Ilham Tauda, Kabid SMA Dinas Pendidikan Fenje Mandaku, Kadis Kesehatan Yan Aslian Noor
Ambon, Jendelakita.com – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku memprogram konsumsi pangan lokal sagu dan umbi-umbian untuk menggantikan beras, sebagai asupan karbohidrat dalam menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurut Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Ketapang) Provinsi Maluku, Faradilla Atamimi, pengalihan sumber karbohidrat itu ke sagu dan umbi-umbian dilakukan untuk menghemat anggaran sebesar Rp1,2 triliun per tahun, yang dikeluarkan pemerintah untuk mengimpor beras.
“Kenapa kita ajukan supaya ada penggantian beras? Itu karena Rp 1,2 triliun satu tahun terlalu banyak untuk kita keluarkan beli beras di luar. Makanya itu kita buat inovasi-inovasi ini,” terang Faradilla Atamimi dalam acara coffee morning yang digelar Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Provinsi Maluku di the View Cafe, Ambon, Selasa (16/12/2025).
Dia menjelaskan, keracunan MBG yang dialami oleh para siswa di sejumlah daerah di Maluku bukan disebabkan oleh beras.
Inovasi penggunaan pangan lokal pun bukan disebabkan karena beras yang diduga sebagai sumber keracunan.
Menurut Faradilla, inovasi itu dilakukan demi untuk mengurangi ketergantungan masyarakat setempat terhadap konsumsi beras.
“Orang Maluku dua generasi terputus dari penggunaan pangan lokal. Kami di Dinas Ketahanan Pangan saat ini sedang gencar-gencarnya mengkampanyekan penggunaan pangan lokal, kembali ke pangan lokal. Bukan karena ada MBG saja, tetapi ini memang sudah kita kampanyekan dari awal,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, ke depan, produksi sagu di Maluku akan masuk Program Strategis Nasional (PSN). Hal itu telah diusulkan oleh Kementerian Dalam Negeri Ke Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).
“Itu untuk tahun-tahun ke depan sagu ini akan mendapatkan perhatian yang sangat fokus dengan adanya Proyek Strategis Nasional,” tandasnya
Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi Regional Maluku, Rosita, mengatakan, berdasarkan petunjuk teknis (juknis) terbaru, setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) melayani sebanyak 2.500 – 3.000 penerima manfaat per hari, terdiri dari siswa dan golongan 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui dan balita.
Dikatakan, mestinya semua sekolah, baik pemerintah maupun swasta menjadi penerima manfaat dari Program MBG. Namun saat ini, setiap SPPG di Maluku hanya bisa melayani sekolah dengan jarak terdekat maksimal enam kilometer atau tiga jam pengantaran.
Dijelaskan, produksi 2.500 – 3.000 paket makanan per hari itu tidak akan ditambah, sekalipun di antara sekolah dengan radius terdekat itu masih ada yang belum menerima. (RLA )






