RDP Komisi I DPRD Provinsi Maluku dengan para ahli waris tanah Dati Sopiamaluang dan BPN di ruang Komisi I, Ambon, Jumat (6/3/2026).


Ambon, Jendelakita.com – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Maluku menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan ahli waris tanah eks Hotel Anggrek, keturunan Simon Latumalea dan para warga yang terdampak di dusun Dati Sopiamaluang. Rapat berlangsung di ruang Komisi I DPRD Maluku, Karang Panjang, Ambon, Jumat (6/3/2026).

RDP yang dipimpin Wakil Ketua Komisi I Edison Sarimanela, itu beragendakan rencana eksekusi oleh Pengadilan Negeri Ambon terhadap Putusan Nomor 203/Pdt.G/2023/PN Ambon yang berkaitan dengan objek tanah sengketa.

Dalam forum itu, para ahli waris menyampaikan adanya dugaan kuat telah terjadi “anarki yudisial” serta indikasi pemalsuan dokumen yang mereka sebut sebagai
“kejahatan sains”.

Mereka menilai kondisi tersebut berpotensi mengancam kepastian hukum serta status kepemilikan aset strategis di Kota Ambon.

Sengketa disebut telah inkracht sejak 1950. Menurut para pemohon, objek sengketa dusun Dati Sopiamaluang sebelumnya telah memiliki kekuatan hukum tetap melalui Putusan Pengadilan Negeri Ambon Nomor 21 Tahun 1950.

Putusan tersebut bahkan telah dilaksanakan melalui eksekusi resmi oleh negara pada 6 April 2011.

“Secara hukum, menghadirkan perintah eksekusi baru atas objek yang sudah pernah dieksekusi, tanpa membatalkan eksekusi sebelumnya merupakan cacat prosedur yang sangat serius,” kata ahli waris dusun Dati Sopiamaluang dalam RDP tersebut.

Ahli waris juga menyoroti dasar kemenangan pihak pemohon eksekusi dalam perkara terbaru, yakni dokumen Acte Van Eigendom Nomor 2842 yang diklaim diterbitkan pada tahun 1922.

Namun, berdasarkan hasil pemeriksaan Laboratorium Forensik Polri pada 4 September 2024, dokumen tersebut diduga tidak autentik.

Hasil analisis forensik menyebutkan, adanya anakronisme teknologi, yakni indikasi bahwa dokumen yang disebut berasal dari tahun 1922 justru dicetak menggunakan printer inkjet, teknologi yang baru berkembang jauh setelah masa kolonial Belanda.

Temuan ini dinilai sebagai indikasi kuat bahwa dokumen alas hak yang digunakan dalam perkara perdata tersebut diduga palsu.

Melalui RDP tersebut, para ahli waris berharap adanya pengawasan dari DPRD Provinsi Maluku terhadap proses hukum yang sedang berjalan.

Mereka juga meminta agar pelaksanaan eksekusi ditinjau kembali hingga seluruh fakta hukum, termasuk temuan forensik terhadap dokumen yang dipersoalkan, dapat diperiksa secara menyeluruh.

Perwakilan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Ambon menyatakan bahwa pihaknya tidak dapat memberikan penjelasan detail terkait data register Eigendom 243.

“Jika kami menjawab apakah atas nama A atau B, itu bisa menjadi bola liar. Data itu pasti ada, nanti kami lihat kembali,” ujarnya

BPN juga menjelaskan bahwa sesuai PP Nomor 18 Tahun 2021 Pasal 93, sebelum pelaksanaan eksekusi harus dilakukan penunjukan batas oleh panitera pengadilan berdasarkan putusan pengadilan.

“BPN hanya memiliki kewenangan melakukan pengukuran tanah,” jelasnya.

Wakil Ketua Komisi I DPRD Maluku, Edison Sarimanela, menyatakan keprihatinannya karena rencana eksekusi tersebut melibatkan banyak masyarakat.

“Kami tidak mengintervensi putusan pengadilan, tetapi persoalan ini menyangkut masyarakat dan fasilitas negara sehingga perlu ada solusi yang tidak merugikan banyak pihak,” kata Sarimanela.

Anggota Komisi I DPRD Maluku, Nina Batuatas, menilai kasus ini membingungkan, lantaran terdapat dua putusan untuk satu objek sengketa.

Ia menjelaskan, sebelumnya objek tanah tersebut telah dimenangkan oleh ahli waris Simon Latumalea dan sudah dieksekusi. Namun, pada 2023 muncul gugatan baru dengan dasar akta eigendom dari pihak Sahurila.

“Ini satu objek yang sama tetapi memiliki dua putusan eksekusi. Apalagi saat ini sudah ada tersangka dalam kasus dugaan pemalsuan dokumen eigendom dan proses hukumnya sudah P21,” ujar Batuatas.

Dia menyampaikan, Komisi I berencana turun langsung ke lapangan, saat agenda eksekusi pengukuran batas (eksering) pada 10 Maret mendatang, untuk melihat kondisi sebenarnya.

Anggota Komisi I lainnya, Wahid Laitupa, meminta agar proses eksekusi ditunda hingga perkara pidana terkait dugaan pemalsuan dokumen eigendom mendapatkan putusan pengadilan.

“Orang yang diduga merekayasa dokumen eigendom sudah ditahan sebagai tersangka. Maka pengadilan seharusnya mempertimbangkan hal ini sebelum melakukan eksekusi,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa Indonesia adalah negara hukum, sehingga hukum tidak boleh digunakan untuk kepentingan kelompok tertentu.

Dari hasil RDP ini diputuskan, DPRD akan mengundang semua pihak terkait, baik keluarga Sahurila, Pengadilan Negeri Ambon dan lainnya untuk memberikan penjelasan dalam RDP lanjutan.

Hasil pertemuan tersebut nantinya akan dilaporkan kepada pimpinan DPRD Provinsi Maluku, demi menentukan langkah dan rekomendasi selanjutnya. (***)

By admin