Anggota DPRD Provinsi Maluku, Anos Yeremias


Ambon, Jendelakita com – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Maluku, Anos Yeremias, mengingatkan warga agar melihat persoalan kapal perintis secara menyeluruh.

Ia menyebut, usulan penambahan trayek, pelabuhan singgah, dan frekuensi pelayaran merupakan hal yang wajar. Namun eksekusinya tidak sesederhana menambah nama di daftar rute.

“Semua harapan itu sangat wajar. Sebagai orang yang berasal dan hidup di daerah kepulauan, beta sangat memahami bahwa kapal bagi masyarakat Maluku bukan sekadar alat transportasi,” kata Anos Yeremias di Ambon, Rabu (12/8/2026).

Menurut dia, Maluku tidak bisa disamakan dengan daerah lain yang mempunyai wilayah dataran lebih dominan. Di Maluku, laut jadi urat nadi. Itu sebabnya setiap kebijakan konektivitas harus dihitung matang.

Dia mengatakan, saat ini ada empat pangkalan kapal perintis di Maluku, masing-masing di Ambon, Tual, Dobo, dan Saumlaki. Empat pangkalan itu melayani 18 trayek.

“Menambah trayek tidak cukup hanya dengan menambahkan nama pelabuhan,” ujarnya.

Dia menjelaskan alasan yang mendasari kebijakan tersebut yakni satu trayek butuh satu kapal dengan rute dan jadwal tetap.

“Kalau kapalnya sebegitu saja, tapi titik singgahnya ditambah terus, maka satu kali voyage jadi makin lama,” jelasnya.

“Jangan sampai katong berhasil menambah banyak titik pelayanan, tetapi frekuensi kapal justru semakin berkurang,” imbuhnya.

Ia menilai, pembenahan kapal perintis harus paket lengkap. Bukan cuma tambah trayek, tapi juga harus dibarengi jumlah armada yang cukup, jadwal yang rapi, perhitungan waktu tempuh, dan kebutuhan riil warga di tiap wilayah.

Politisi Golkar itu berpendapat, transportasi laut di Maluku bukan pilihan, melainkan kebutuhan dasar, terutama untuk daerah yang belum memiliki alternatif lain.

Jadi tolok ukurnya bukan berapa banyak pelabuhan yang disinggahi. Tapi seberapa rutin dan efektif masyarakat bisa mendapatkan akses kapal.

By admin