Sekretaris Komisi IV DPRD Provinsi Maluku, Welhelm D. Kurnala


Ambon, Jendelakita.com – Sekretaris Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Maluku, Welhelm D. Kurnala mengkritisi pengiriman atlet dari daerah itu ke ajang Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS) XVII di Jakarta, yang akan berlangsung pada 1-10 November 2025.

Menurut Kurnala, ada dugaan dalam proses seleksi atlet Maluku menuju POPNAS 2025 dilakukan dengan tidak melalui seleksi terbuka.

“Proses pengiriman atlet seharusnya dilakukan secara profesional dan transparan, agar benar-benar menghasilkan atlet terbaik, yang mampu membawa nama baik Provinsi Maluku di tingkat nasional,” katanya kepada wartawan di baileo rakyat Karang Panjang, Ambon, Senin (13/10/2025).

Politisi Perindo itu menduga, pengiriman atlet Maluku menuju POPNAS tahun ini tidak melalui mekanisme seleksi yang benar.

“Kami menduga proses pengiriman atlet ini tidak melalui seleksi yang benar. Ada kekhawatiran hanya merekrut kerabat atau orang-orang tertentu, sehingga atlet yang tidak mumpuni bisa diikutsertakan. Padahal tujuan kita jelas, mencari juara untuk membawa nama Maluku,” ucapnya.

Lantaran dugaan tersebut, pihaknya berencana memanggil Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora), Sandy Wattimena bersama pelatih Sentra Pembinaan Olahragawan Berbakat Daerah (SPOBDA) setempat, Viera Hetharie untuk dimintai penjelasan dan pertanggungjawaban secara resmi.

“Kita akan tindak lanjut. Jangan sampai olahraga pelajar di Maluku dikorbankan karena kepentingan kelompok tertentu, termasuk menyeluruh. Kalau benar, ini bentuk penyalahgunaan kewenangan,” tegasnya.

Sikap DPRD ini muncul menyusul pernyataan Kadispora Maluku Sandy Wattimena bahwa penetapan atlet SPOBDA ke ajang POPNAS dilakukan “hanya berdasarkan kebijakan” semata.

Pernyataan itu menimbulkan kebingungan publik dan mempertegas dugaan adanya ketidakterbukaan dalam proses pembinaan atlet pelajar di Maluku.

Hal itu disebabkan ucapan tersebut dinilai bertolak belakang dengan apa yang dia katakan sebelumnya bahwa Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) mewajibkan atlet SPOBDA untuk mengikuti POPNAS.

Sementara itu, pelatih atletik SPOBDA, Viera Hetharie, yang disebut-sebut ikut menentukan nama atlet ke POPNAS, memilih bungkam saat dikonfirmasi. Upaya konfirmasi langsung ke Kantor Dispora pun tidak membuahkan hasil.

Sejumlah penggiat olahraga di Maluku menilai langkah Dispora yang menetapkan 10 atlet tanpa seleksi terbuka adalah bentuk ketidakadilan dan menutup peluang bagi atlet potensial dari kabupaten/kota lain untuk tampil di ajang nasional.

“POPNAS itu ajang pelajar, bukan ajang promosi SPOBDA. Kalau semua ditentukan sepihak, bagaimana kita bisa membina atlet berprestasi dari bawah?” Tanya salah satu pemerhati olahraga di Ambon, Minggus Talabessy (DR/RR)

By admin