Oleh : NN


Ambon,Jendelakita.com

Rebana yang dipukul Wali Kota Bodewin Wattimena pada Senin (11/8/2025) bukan hanya tanda dimulainya masa kepengurusan baru Dewan Pimpinan Daerah (DPD) LASQI Nusantara Jaya Kota Ambon.  Akan tetapi sebagai simbol dimulainya babak baru perjalanan Ambon dalam mengukuhkan identitasnya sebagai kota musik dunia.

Pelantikan yang digelar di lantai IX Zest Hotel Ambon itu berlangsung khidmat, namun penuh energi optimisme. Para pengurus, yang dikukuhkan oleh Ketua Umum DPW LASQI Maluku Hj. Rohani Vanath, membawa visi besar, “memadukan kekuatan seni kasidah, budaya lokal, dan musik Islami untuk memperkaya ekosistem musik Ambon.”

Lembaga Seni Qasidah Indonesia (LASQI) bukan organisasi baru di Ambon. Sejak berdiri, ia menjadi wadah bagi seniman kasidah dan rebana klasik yang tersebar di berbagai komunitas, sekolah, dan sanggar seni.

Khadiran LASQI Nusantara Jaya Kota Ambon dengan struktur kepengurusan yang diperkuat pemerintah kota memberi babak baru, yakni integrasi langsung ke dalam kebijakan budaya dan pendidikan daerah.

Ambon sendiri sudah lama dikenal sebagai tanah subur bagi musik. Dari lagu-lagu rakyat hingga harmoni gereja dan masjid, dari musik tradisional, tifa hingga ukulele yang ceria, semua hidup berdampingan.

Tak heran jika pada 2019, UNESCO menetapkan Ambon sebagai City of Music, pengakuan internasional yang kini menjadi aset strategis kota.

Dari Panggung Lokal ke Agenda Dunia
Dalam sambutannya, Wali Kota Wattimena menegaskan bahwa musik telah masuk ke dalam tujuh program prioritas pemerintah. Salah satunya melalui 20 sekolah binaan yang mengintegrasikan kurikulum musik ke dalam pembelajaran sehari-hari.

“Kami ingin membangun ekosistem ekonomi kreatif yang kuat. Musik adalah ruh Ambon,” kata Bodewin Wattimena.

Pendekatan ini tidak sekadar memupuk bakat, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi jangka panjang.

Lebih dari 7.000 musisi tradisional yang terdata kini bukan hanya aset budaya, tetapi juga potensi pasar dan industri kreatif yang bisa menggerakkan ekonomi kota.

LASQI diharapkan menjadi motor penggerak di jalur seni Islami, terutama kasidah dan rebana, yang selama ini belum terkelola maksimal.

Ketua Umum DPD LASQI Kota Ambon yang baru saja dilantik, Abas Rumadan, memaparkan rencana kerja yang berfokus pada pencarian dan pembinaan talenta sejak usia sekolah dasar.

Program seperti sosialisasi seni kasidah ke sekolah, ajang silaturahmi pelajar, hingga forum Lasqi Bastory akan menjadi ruang lahirnya ide dan kolaborasi.

“Bakat itu ada di kampung-kampung, di lorong-lorong, di sekolah-sekolah kecil. Kami akan temukan, membina, dan menampilkannya,” ujar Abas.

LASQI juga akan berkolaborasi dengan Ambon Music Office (AMO) dan Dinas Pendidikan, agar seni kasidah tidak hanya hadir di panggung lomba, tetapi menjadi bagian dari pembentukan karakter siswa.

Musik, Ekonomi dan Diplomasi Budaya
Penguatan LASQI di Ambon tak hanya soal seni, tetapi juga strategi diplomasi budaya. Musik kasidah dan rebana klasik bisa menjadi identitas unik Ambon di mata dunia, melengkapi musik gereja dan tradisional yang sudah lebih dulu dikenal.

Jika dikelola dengan baik, festival kasidah dan program seni Islami di Ambon bisa menarik wisatawan mancanegara, sekaligus memperluas jejaring dengan negara-negara di Timur Tengah dan Asia Tenggara yang memiliki tradisi musik serupa.

Pelantikan ini hanyalah awal. Tantangannya adalah memastikan semangat yang bergema di Zest Hotel itu terus hidup di lapangan. Mengubah energi seremoni menjadi kerja nyata, yakni membina talenta, menggelar pentas, menciptakan karya, dan menghubungkan Ambon dengan panggung dunia.

Sore itu, ketika langit Ambon memerah jingga, gema rebana seakan menegaskan pesan yang sama bahwa musik bukan sekadar hiburan, tetapi bahasa universal yang bisa menyatukan hati, memperkuat identitas, dan membuka pintu masa depan.

By admin