Penjabat Bupati Seram Bagian Barat (SBB) Achmad Jais Ely
Ambon, Jendelakita.com – Penjabat Bupati Seram Bagian Barat (SBB) Achmad Jais Ely, membantah tuduhan telah melakukan intimidasi terhadap para kepala desa (kades) untuk mendukung salah satu pasangan calon gubernur Maluku dan wakilnya dalam pemilihan kepala daerah serentak, 27 November 2024 mendatang.
Tuduhan tersebut dilayangkan oleh akun tiktok Rimbo Bugis dalam video yang viral di media sosial dan WhatsApp (WA), baru-baru ini.
Kepada wartawan di Ambon, Senin (28/10/2024) Jais Ely mengatakan, publik pasti akan berpikir macam-macam terhadapnya. Tapi dirinya akan tetap memegang teguh sumpah janji yang telah diucapkan sebagai Penjabat Bupati SBB.
“Keyakinan saya, saya tidak akan menyalahi sumpah sebagai penjabat bupati Seram Bagian Barat. Ketika saya mau menjabat saya mengucapkan sumpah janji. Dan saya akan berpatokan pada sumpah dan janji saya sebagai penjabat Bupati Seram Bagian Barat,” kata Achmad Jais Ely.
Dia mengatakan, dirinya tetap netral dalam menjalankan tugas dan fungsi sebagai pejabat pemerintah.
Dikatakan, yang dilakukan terhadap para kepala desa adalah mengundang mereka untuk dibina terkait pembuatan Surat Pertanggungjawaban (SPJ) Dana Desa (DD) di lantai (lt) III kantor bupati SBB.
Kegiatan itu dilakukan terbuka dan diliput oleh semua wartawan yang ada di kabupaten SBB.
Selain para kepala desa, Jais Ely juga mengundang semua kepala sekolah untuk dibina, agar dapat menyusun SPJ dengan baik terkait penggunaan dana bos.
Menurut dia, ketika Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten SBB Achmad Wahyudi, melaporkan kepadanya bahwa ada kurang lebih Rp 18 miliar dana bos belum terlaporkan SPJ-nya, dirinya lantas mengambil tindakan mengumpulkan semua kepala sekolah di lantai III kantor bupati.
“Saya kumpulkan para kepala sekolah, bukan karena pilkada. Tapi karena ada Rp 18 miliar dana bos belum terlaporkan di BPKAD,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, pihak inspektorat juga dihadirkan dalam kegiatan itu. Tujuannya untuk membina para kepala sekolah tersebut dalam penyusunan SPJ dana bos.
“Begitupun kasus Dana Desa yang setiap hari wartawan tulis itu tentang Desa Loki. Saya tidak mau kasus yang sama terjadi kepada saya punya 92 kepala desa yang lain. Jadi Saya undang kepala desanya, bendaharanya dengan operatornya, hadirkan juga inspektorat untuk membina mereka. Jangan sampai SPJ mereka salah, karena selama ini tidak ada bintek-bintek bagi mereka,” jelasnya.
Achmad Jais Ely menyayangkan, kegiatan yang dilakukan terbuka tersebut justeru dituding sebagai intimidasi oleh Rimbo Bugis dalam akun tiktok-nya.
“Orang kita undang untuk dibina kok dibilang kita intimidasi. Justeru saya punya tanggungjawab jangan sampai di zaman saya ada kepala-kepala desa yang bisa digiring kepada hal-hal yang melakukan perbuatan melawan hukum,” tegasnya.
Jais Ely bahkan menyilahkan siapapun untuk mengecek kebenaran itu kepada para kepala desa.
“Silahkan di-cross check kepada semua kepala desa, bagaimana kita bina mereka. Jadi tidak ada unsur apa-apa di situ,” terangnya.
Dia menambahkan, Rimbo Bugis justeru telah meminta maaf kepadanya atas video viral tersebut.
“Justeru Rimbo sudah WA saya, ada buktinya. Dia sudah minta maaf, karena tidak terbukti,” beber Jais Ely seraya menunjukan bukti percakapan mereka.
Pewarta : Rosni Marasabessy
Editor : Rosni Marasabessy






