Plt. Kepala Badan Pusat Statistik Kota Ambon, Pauline Gaspers


Ambon, Jendelakita.com – Emas perhiasan menjadi komoditas dengan andil terbesar terhadap inflasi di Kota Ambon sepanjang 2025. Komoditas ini mencatatkan andil inflasi year to date (Y-to-D) sebesar 0,79.

Hal tersebut disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Ambon, Pauline Gaspers, dalam konferensi pers di Balai Kota Ambon, Kamis (15/1/2026).

Dalam paparannya, Pauline Gaspers menjelaskan bahwa selain emas perhiasan, tarif angkutan udara menjadi komoditas dengan kontribusi terbesar berikutnya, dengan andil inflasi sebesar 0,42.

“Posisi selanjutnya ditempati cabai rawit sebesar 0,18, ikan tongkol (komu) 0,17, ikan tuna (tatihu) 0,16, serta ikan selar (kawalinya) 0,13. Sigaret kretek mesin (SKM) dan ikan layang (momar) masing-masing memberikan andil sebesar 0,12. Adapun wortel tercatat menyumbang andil inflasi sebesar 0,11,” kata Pauline

Kondisi tersebut berbeda dengan 2024. Pada tahun itu, beras menjadi komoditas dengan andil inflasi tertinggi di Kota Ambon, yakni sebesar 0,44. Emas perhiasan berada di urutan berikutnya dengan andil 0,37.

Komoditas lain yang turut memberikan andil terhadap inflasi pada 2024 antara lain nasi dengan lauk sebesar 0,17, bawang merah 0,16, serta SKM dan ikan layang masing-masing 0,14.

Di sisi lain, sejumlah komoditas tercatat memberikan andil negatif atau menahan inflasi, yakni bensin sebesar -0,13, kangkung -0,14, dan cabai rawit -0,17.

Pengendalian Inflasi Perlu Menyasar Konsumsi Ikan Segar
Dalam rekomendasinya Pauline menyampaikan bahwa agar inflasi dapat dikendalikan, perubahan pola konsumsi masyarakat menjadi salah satu langkah jangka panjang yang perlu dipertimbangkan, terutama untuk komoditas ikan segar.

Ketergantungan masyarakat terhadap ikan segar dinilai perlu dikurangi secara bertahap melalui perubahan pola konsumsi dan diversifikasi sumber pangan. Langkah ini diharapkan dapat membantu mengurangi tekanan harga ikan terhadap inflasi di Kota Ambon.

“Untuk pengendali inflasi dari kelompok ikan segar, solusi jangka panjang sudah harus dimulai yakni mengubah fanatisme masyarakat terhadap ikan segar,” ucapnya.

Selain itu, penerapan timbangan dalam transaksi juga dinilai penting. Penjualan ikan berdasarkan satuan berat yang terstandar, seperti kilogram, diharapkan membuat mekanisme pembentukan harga lebih transparan dan memudahkan pemantauan pergerakan harga di pasar.

“Penggunaan timbangan oleh pedagang harus mulai diimplementasikan. Mekanisme penjualan dalam satuan standar kilogram akan membuat pergerakan harga lebih smooth,” terangnya.

Sementara itu, pengendalian inflasi dari komoditas tarif angkutan udara menghadapi tantangan tersendiri, terutama pada periode musim puncak atau peak season.

Ketika permintaan terhadap tiket pesawat meningkat, harga cenderung mengalami fluktuasi. Selama tarif yang diberlakukan tidak melampaui Tarif Batas Atas (TBA) yang ditetapkan pemerintah, ruang intervensi terhadap harga tiket relatif terbatas.

Pengalaman menunjukkan bahwa kebijakan diskon tiket pesawat yang diberlakukan pemerintah pusat sejak pertengahan Desember 2025 hingga awal Januari 2026 belum mampu meredam tekanan inflasi dari komoditas angkutan udara di Kota Ambon.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pengendalian inflasi di Ambon membutuhkan langkah yang berbeda untuk setiap komoditas.

Untuk ikan segar, upaya dapat diarahkan pada perubahan pola konsumsi dan standardisasi transaksi. Sementara itu, pada angkutan udara, diperlukan evaluasi terhadap efektivitas kebijakan tarif dan diskon, khususnya ketika permintaan meningkat pada musim liburan.

By admin