Ambon, Jendelakita.com – Prof. Muhadjir Effendy dalam kuliah umum di Universitas Muhamadiyah Maluku (Unimku) di Ambon, Sabtu malam (17/8/2024) mengimbau, agar masyarakat berhenti mengkonsumsi beras dan menggantinya dengan jagung.

“Sebaiknya menghentikan makan beras padi. Ganti dengan beras jagung, karena beras jagung kadar kalorinya rendah,” kata Muhadjir Effendy di hadapan para mahasiswa, dosen dan pengurus Muhammadiyah tingkat wilayah hingga kecamatan di Maluku.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan itu mengingatkan, untuk mereka yang telah memasuki usia tua agar mengurangi makan makanan berkalori tinggi, seperti beras. Hal itu disebabkan metabolisme tubuh mereka sudah tidak prima, sehingga kemampuan dalam mencerna makanan telah menurun.

“Jadi untuk mencerna makanan sudah gak bagus. Kalau kalorinya terlalu tinggi efeknya ke organ-organ, mulai dari ginjal jantung sampai pankreas. Itu harus dijaga dengan memakan makanan yang kalorinya rendah seperti jagung,” terangnya.

Menurut dia, nasi ibarat bensin bagi tubuh manusia. Fungsinya untuk menghasilkan energi atau panas.

“Kalau kita berkerja kasar, angkat-angkat batu, perlu makan nasi yang banyak, karena itu untuk enegi. Tapi kalau kita-nya cuma duduk-duduk, jangan banyak makan beras, harus diganti, karena kalau itu gak jadi energi, gak terbuang, akan menjadi lemak,” jelasnya.

Dikatakan, lemak di tubuh manusia bukan bersumber dari daging atau ikan. Melainkan dari beras yang dikonsumsi, yang tidak terolah menjadi energi.

Dijelaskan, mereka yang gemuk tubuhnya bukan lantaran banyak makan daging, melainkan karena terlalu mengkonsumsi nasi.

“Apalagi nasi putih yang panas. Nasi putih yang panas itu indeks glikemiknya tinggi. Glikemik itu apa? Yaitu kecepatan karbohidrat dalam makanan memicu kenaikan gula darah,” imbuhnya.

Indeks glikemik yang tinggi langsung menaikan kadar gula darah dalam tubuh. Hal itu berbahaya bagi mereka yang mempunyai bakat kencing manis dan diebetes.

Bila sudah terserang diabetes, mereka dianjurkan untuk berhenti mengkonsumsi beras dan menggantinya dengan jagung.

“Kalau kita makan nasi jagung tidak cepat berubah jadi gula darah. Pelan gitu, karena indeksnya hanya 30. Kalau nasi putih, terutama yang panas indeksnya sampai 70,” paparnya.

Dia menambahkan, jagung mengandung lemak baik, sama seperti ikan. Sementara lemah jahat banyak terdapat di daging, terutama daging babi.

‘Makanya orang Ambon rata-rata cerdas-cerdas, karena banyak makan ikan. Kalau ada orang Ambon gak cerdas pasti dia gak suka ikan laut. Tapi tetap karbohidrat perlu, tapi tidak harus beras, melainkan jagung juga sagu,” tandasnya.

Pewarta : Rosni Marasabessy
Editor     : Rosni Marasabessy

 

By admin